Distro Linux Terbaik yang Pernah Saya Gunakan

JagoTekno – Pada artikel ini saya ingin menjelaskan distro linux terbaik yang pernah saya gunakan selama tahun 2020.

Just info akhirnya pada tahun 2020 saya sudah total menggunakan linux di laptop saya setelah kurang lebih 10 tahun menggunakan windows dan linux secara dual boot.

Tidak ada kendala yang berarti sama sekali dengan menggunakan linux single boot.

Semua keperluan saya yang terkait menggunakan komputer bisa saya lakukan dengan normal.

Mau mengetik, edit foto, mendengarkan musik, putar film, browsing, ngoding website dan android studio bisa dilakukan dengan normal di linux.

Dan, hal yang paling menarik di dunia linux adalah saya bisa memilih mau menggunakan distro apa yang ingin saya gunakan.

Selama tahun 2020 berikut distro linux yang sudah saya gunakan :

  • Ubuntu Studio
  • Open Suse Leap
  • Open Suse Tumblweed
  • Fedora
  • Manjaro
  • Arco Linux
  • Debian
  • Ubuntu
  • Pop OS
  • Mint
  • Solus
  • Kubuntu
  • Lubuntu
  • Elementary OS
  • MX Linux

Semua daftar di atas merupakan distro yang gampang diinstal, karena menggunakan GUI saja. Tidak seperti Arch, Artix, Crux, Void, Gentoo, Slackware yang mana harus menggunakan beberapa perintah linux di terminal untuk melakukan instalasi di sistem. Ribet pake banget buat pemula.

Dan inilah distro linux terbaik yang terbaik yang pernah saya gunakan

Ubuntu

Saya sebenarnya sudah lama tidak install ubuntu. Pikiran saya adalah tampilannya biasa saja, dan begitu-begitu saja.

Dan benar sekali. Tidak ada perubahan sama sekali.

Namun pada pertengahan tahun, saya membutuhkan untuk menjalankan aplikasi yang mana hanya tersedia di pada paket .deb. Jadi saya install ubuntu saja.

Hal yang bikin repot ketika setelah install ubuntu adalah melakukan konfigurasi.

Misalnya melakukan upadate dengan

sudo apt update

Memasang codec dan lain sebagainya.

Hal terbaik yang bisa saya dapatkan di ubuntu adalah dukungan aplikasi dan dokumentasi tutorial yang sangat banyak.

Pada akhir tahun saya menyadari bahwa ternyata banyak sekali yang bisa saya lakukan dengan hanya menggunakan ubuntu.

Saya tidak lagi terlalu memperhatikan tampilan, tetapi apa yang bisa saya lakukan dengan sistem operasi yang saya jalankan ini.

Hal yang kurang saya sukai di Ubuntu adalah update aplikasi yang tersedia di software center tidak selalu memberikan kita software terupdate. Beberapa aplikasi yang biasa saya gunakan seperti Inkscape, Gimp dan Darktable, tidak tersedia versi terbarunya di ubuntu, kecuali mencari cara di internet untuk menginstallnya secara langsung.

Ubuntu juga menjadi basis dari distro besar lain seperti PopOs, Mint, Kubuntu, Lubuntu, dan lain-lain.

Jika anda mencari distro untuk programming, saya menyarankan Ubuntu.

Debian

Debian merupakan grand daddy distro. Dikembangkan mulai tahun 1993 dan sudah menelurkan berbagai macam distro besar seperti Ubuntu, Kali, Mint dan lain-lain.

Hal yang terbaik yang saya dapatkan ketika install Debian adalah saya dipaksa untuk membaca dokumentasi debian di situs resminya.

Di sana terdapat berbagai macam tutorial dan informasi mengenai apa yang mesti dilakukan.

Karena tahukah anda bahwa

Sejatinya aplikasi terbaik adalah yang memiliki dokumentasi yang baik.

Misalnya ketika saya install debian live, saya mendapatkan kernel masih menggunakan kernel yang lama, sedangkan kernel pada tahun ini sudah versi yang paling update.

Lalu cara supaya debian bisa menjalankan kernel baru adalah mendownload kernel atau melakukan setting dan mengganti versinya dari stable menjadi unstable (debian sid).

Versi debian unstable sama seperti rolling release, artinya komputer akan terus mendapatkan update aplikasi terbaru.

Debian juga sangat bagus untuk digunakan sebagai OS Server.

Manjaro

distro linux terbaik manjaro

Ketika memakai Manjaro saya merasa seperti power user. Saya mendapatkan update yang berkala hampir setiap hari.

Distro manjaro berjenis rolling release. Artinya kita akan mendapatkan update sistem dan aplikasi terbaru.

Manjaro merupakan versi distro Arch yang lebih mudah untuk diinstall.

Kelebihan manjaro yang terasa adalah ketersediaan aplikasi yang sangat banyak melalui repository AUR (arch user repository).

Hampir semua aplikasi yang saya butuhkan ada di AUR.

Tapi meski demikian canggih, kadang update yang tersedia tidak selamanya kompatible dengan versi software.

Contohnya, saya pernah install update software Virtualbox terbaru, dan ternyata tidak cocok dengan versi kernel yang sedang berjalan. Akhirnya saya harus downgrade aplikasi Virtualbox tersebut.

Manjaro bisa menjadi pintu gerbang untuk anda yang ingin mencicipi sebuah distro bertipe rolling release.

OpenSuse

Suse linux kini menjadi Open Suse.

Distro ini berbasis Slackware dan menggunakan paket aplikasi berbasis .rpm sama seperti Fedora, centos, dan Red Hat.

Jika menggunakan distro ini kita tidak akan sering membuka terminal karena hampir semua setting system bisa dilakukan secara GUI.

Ini tidak lepas dari aplikasi Yast yang dimiliki OpenSuse.

Di dalam Yast, kita bisa melakukan berbagai macam setting sistem, seperti pengaturan user, admin dan software.

OpenSuse terdiri dari 2 versi yaitu Leap (stable) dan Tumbleweed (Rolling Release).

Ketika memakai versi Tumbleweed kita akan mendapatkan update hampir setiap hari. Meski begitu saya tidak mengalami kendala mengenai kompatibilitas software yang saya alami di Manjaro. Semua software berjalan dengan sangat normal. Mungkin karena YAST.

Solus

Saya pribadi baru mengetahui distro ini pada tahun ini.

Ternyata distro ini bukan distro yang bisa dianggap enteng. Karena hampir semua aplikasi standar bisa dijalankan dengan sangat normal.

Saya juga kagum dengan stabilitas yang diberikan Solus.

Solus berbasis rolling release, namun tidak seagresif Manjaro.

Jadwal update Solus biasanya dilakukan pada hari Jumat.

Solus adalah distro yang berdiri sendiri. Tidak dibuat dari distro lain seperti ubuntu yang dibuat dari debian.

Solus memilih paket software berextensi .eopkg.

Dalam hal tampilan solus mengusung Budgie sebagai standart, karena merekalah yang membuat desktop environtment tersebut.

Fedora

distro linux terbaik fedora

Dari semua distro yang sudah saya coba, saya akhirnya memilih Fedora.

Distro ini sangat canggih, sebab ternyata Linus Torvalds sebagai pembuat kernel linux juga menggunakan Fedora.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar kenapa distro ini sangat canggih dan komplex. Silahkan buka saja situsnya dan explore di sana.

Hal yang paling berkesan adalah ketersediaan ram swap yang bernama swap ZRam secara otomatis di sistem. Padahal saya tidak membuat sebuah partisi swap sama sekali.

Selain itu tutorial untuk melakukan beberapa setting di Fedora juga banyak.

Secara tampilan Fedora mirip dengan Ubuntu yang mengusung Gnome. Update Gnome terbaru selalu diaplikasikan pada Fedora terlebih dahulu.

Jika anda ingin menggunakan Gnome Vanilla, install saja Fedora.

Hal yang harus anda ketahui bahwa kalau Debian dan Ubuntu menggunakan aplikasi berestensi .deb, sedangkan Fedora menggunakan aplikasi dengan extensi .rpm (red hat package manager).

Software yang tersedia untuk .rpm juga banyak, tapi tidak sebanyak .deb.

Tapi support untuk eksetensi aplikasi .rpm juga sangat bagus.

Akhir kata

Demikian ulasan saya tentang distro linux terbaik yang saya gunakan.

Overall, sebenarnya tidak ada distro linux terbaik yang cocok untuk semua orang.

Yang ada hanya distro terbaik untuk saya.

Jika anda membaca artikel tentang distro linux terbaik, itu belum tentu cocok dengan kebutuhan anda. Saya menyebutkan distro di atas karena berdasarkan kebutuhan saya memang cocok untuk menggunakannya.

Bagaimana dengan anda? Apakah punya referensi distro lain? Silahkan tulis di kolom komentar di bawah. 🙂

Tinggalkan komentar